Literasi sejak dini

Taktik Jitu Hadapi Tuntatan Zaman atas Literasi

Seringkali masyarakat menilai bahwa literasi hanya mencakup dunia membaca dan menulis. Padahal Irianto dkk memaparkan pandangan menurut Wells (dalam Heryati, dkk (2010, hlm. 46) bahwa terdapat empat tingkatan literasi, yaitu performative, functional, informational, dan epistemic. Literasi tingkatan pertama adalah sekadar mampu membaca dan menulis. Literasi tingkatan kedua adalah menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa untuk keperluan hidup atau skill for survival (seperti membaca manual, mengisi formulir, dsb). Literasi tingkatan ketiga adalah menunjukkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan. Literasi tingkatan keempat menunjukkan kemampuan mentransformasikan pengetahuan.

Pernyataan tersebut menggambarkan pengertian literasi menjadi lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan. Membaca dan menulis menjadi sebuah keharuasan untuk dibiasakan agar menambah khasanah ilmu pengetahuan. Namun literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, melainkan juga tentang bagaimana cara kita menggunakan bahasa dalam berkomunikasi yang akan membantu proses mengakses dan mentransformasikan pengetahuan.

Menelisik dari hasil PISA, rendahnya minat membaca di kalangan masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Mikael Dewabrata (Zenius.net) memaparkan nilai PISA mengalami skor penurunan signifikan pada poin membaca. Bahkan poin membaca mendapat skor lebih rendah dari tahun 2015 dan 2012 yakni 397 dan 396. Sedangkan pada tahun 2018 nilai membaca turun menjadi 371. Hal ini menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan.

Permasalahan ini bisa diatasi dengan  memasimalkan peran dari seluruh komponen  masyarakat mulai keluarga, sekolah, hingga pemerintah. Zaman yang selalu memberi tuntutan-tuntutan baru harus bisa diatasi dengan baik oleh seluruh lini masyarakat. Dalam kasus literasi, kita bisa mengawali langkah dengan membiasakan baca dan tulis sebagai tingkatan pertama literasi. Namun, membangun minat baca dan tulis sangatlah sulit sehingga perlu adanya taktik dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Nah, berikut beberapa taktik yang bisa digunakan dalam meningkatkan minat literasi:

  1. Pengenalan Literasi sejak Dini
Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Layanan dengan C-A-R-E

Literasi bukan hanya untuk orang dewasa, tapi juga untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dunia literasi perlu dikenalkan sejak dini supaya anak mampu memenuhi tututan zaman dan merealisasikan di masa dewasanya nanti.  Pengenalan literasi sejak dini juga ditujukan agar anak-anak mampu mengenali banyak hal sejak kecil, sehingga juga akan berpengaruh pada dunia pendidikan serta perannya di masyarakat nanti.

Taktik ini bisa dilakukan dengan berbagai cara yang asyik bagi anak-anak, mulai dari mengenalkan kosa kata melalui visual gambar, menyediakan bacaan bergambar, atau membacakan dongeng sebelum tidur.

 

  1. Pemanfaatan Media Sosial

Anak muda jaman now sangat suka berlama-lama dengan media sosial. Menurut Wearesosial Hootsuite, ada 150 juta atau 56% dari total populasi yang menggunakan media sosial. Jumlah yang besar ini wajar terjadi karena kita ada di zaman teknologi yang sudah merambah di berbagai aspek kehidupan. Namun besarnya jumlah ini harus mampu kita manfaatkan jadi peluang meningkatkan banyak hal baik, salah satunya meningkatkan minat literasi.

Dengan memanfaatkan media sosial (Instagram, Facebook, WhatsApp, dan lain-lain) dalam menyebarkan konten literasi, maka anak-anak muda akan lebih mudah mendapatkan informasi tentang literasi. Menyelami kehidupan masyarakat dan menyuarakannya dalam bentuk tulisan yang diunggah ke sosial media juga akan sangat mempengaruhi minat literasi generasi muda. Menyalurkan kegiatan membaca dan menulis melalui sosial media.

 

  1. Memaksimalkan Program Pemerintah terkait Literasi

Nah, taktik ini sangat penting direalisasikan, terkhusus lagi dalam dunia pendidikan. Pemerintah yang telah mengeluarkan kebijakan berupa penegasan tentang integrasi literasi dan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) harus dimaksimalkan oleh para pendidik dalam mengatur situasi KBM. Integrasi literasi dan PPK yang wajib disertakan dalam penulisan RPP menjadi sebuah tonggak awal untuk menegaskan pentingnya nilai literasi dan karakter dalam pendidikan.Oleh sebab itu, para pendidik wajib memaksimalkan kebijakan tersebut sebagai upaya meningkatkan minat literasi siswa.

Baca Juga  Pak Guru "Sudah Dekat" dengan Ajal!

Selain kebijakan integrasi literasi dan PPK, pemerintah juga mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. GLS merupakan program membaca buku (selain buku pelajaran) selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Program ini sangat bermanfaat untuk memancing minat siswa sehingga menemukan keasyikan dalam sebuah buku. Terkadang ada beberapa orang yang tidak suka membaca karena belum menemukan keasyikan dalam buku, atau berasalasan tidak memiliki waktu membaca. Maka program GLS ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menumpas segala asalan tersebut dan memancing kesukaan siswa terhadap literasi.

Selain program membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai, GLS ini juga bisa diprakarsai dalam beberapa program lain seperti pemberdayaan mading di tiap kelas, jadwal wajib mengunjungi perpustakaan, atau dengan adanya program diskusi literasi dengan bersama sastrawan terkenal. Hal ini dapat menarik minat siswa yang terpancing dari kewajiban-kewajiban yang dihadirkan oleh guru atau fasilitas-fasilitas yang diberikan.

 

 

 

 

 

Sumber:

Databooks. (2019). Berapa Pengguna Media Sosial Indonesia?; Data Pengguna Telepon, Internet, Media Sosial Indonesia Menurut Wearesosial (2019). [online] www.katadata,kosakata.co.id

Dewabrata (2019). Hasil PISA 2018 Resmi Diumukan, Indonesia Alami Penurunan Skor di Setiap Bidang [Online] www.zenius.net

Irianto dan Febrianti. (2017). Pentingnya Penguasaan Literasi bagi Generasi Muda dalam Menghadapi MEA. (Prosiding). Bandung: Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Hlm. 640—647

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.