pelatihan tidak berdampak

Pelatihan atau training kepada para guru adalah salah satu usaha yang mungkin biasa kita lakukan di jajaran pimpinan untuk menjaga kompetensi para guru tetap terjaga, bahkan meningkat.

Namun, pernahkah anda merasakan bahwa setelah para guru mendapatkan sesi pelatihan yang tidak sebentar dan cukup besar investasi yang dikeluarkan oleh lembaga, seolah-olah hanya tampak di minggu 1-3 pasca pelatihan. Satu sampai tiga bulan pasca pelatihan materi yang dibawakan, materi tersebut seolah menghilang tanpa bekas.

Pernahkah anda menangkap fenomena ini?

Pada dekade saat ini dimana para guru/SDM didominasi oleh para generasi milenial (kelahiran 1980-2000an) tantangan pimpinan adalah menyiapkan program yang sesuai dan tepat sasaran.

Menurut data yang kami miliki, selama kurun waktu satu tahun (2017), program yang paling dibutuhkan dan diminati oleh beberapa lembaga mitra kami adalah pendampingan atau coaching dengan frekuensi terbanyak.

Hal ini berbanding lurus dengan beberapa keluhan dari beberapa lembaga yang menyatakan bahwa pelatihan saja ternyata kurang berdampak terhadap peningkatan kompetensi dan ketrampilan mengajar guru.

Ada beberapa sebab yang mungkin menjadi faktor, mengapa pelatihan tidak lagi berdampak pada kenaikan dan peningkatan kompetensi atau ketrampilan diantaranya:

1. Hanya sekedar transfer pengetahuan

Tidak dipungkiri, bahwa tidak semua peserta pelatihan menyiapkan fisik dan mental sempurna saat sesi pelatihan berlangsung. Apalagi jika materi pelatihan didominasi oleh kegiatan transfer pengetahuan belaka. Seolah-olah memindahkan pengetahuan yang diketahui oleh trainer atau narasumber kepada para peserta. Para trainer atau narasumber begitu berapi-api, namun pesertanya kurang berpartisipasi aktif dalam proses training atau workshop berlangsung.

2. Tidak didukung dg praktek yg cukup (sesuai kompetensi)

Selama pelatihan berlangsung, apalagi yang merupakan pelatihan fundamental (dasar). Trainer cukup memberikan banyak porsi pada penguasaan knowledge (pengetahuan) yang harus dimiliki oleh para peserta dengan berbagai-macam jenis dan kemampuan dalam menyerap informasi. Hal ini berakibat, praktek yang seharusnya bisa ditingkatkan frekuensinya saat sesi pelatihan tidak terjadi. Kelas hanya disibukkan dengan proses transfer pengetahuan dari narasumber kepada para peserta.

Baca Juga  Download (Unduh) Kisi-kisi USBN dan UN 2019

3. Waktu pelatihan yang singkat

Beberapa lembaga, karena keterbatasan sumber dana, memaksakan terlaksananya pelatihan atau upgrading para gurunya dengan waktu terbatas. Pelatihan yang awalnya dan idealnya dilaksanakan dalam waktu 3 hari, tetapi terlaksana dalam 1-2 hari. Hari ke-3 yang biasanya dipenuhi dengan simulasi atau praktek ditiadakan karena mengingat investasi yang terbatas dari lembaga.

4. Kesalahan dalam menentukan jenis pelatihan

Terkadang, pimpinan atau yang bertanggung jawab dalam menyiapkan program upgrading untuk SDM atau guru, tidak dibekali latar belakang berupa data dan fakta yang menjadi dasar dalam penentuan program yang tepat untuk para guru. Rencana Kerja Tahunan yang tidak didesain dengan sistematis dan berjangka-pendek, membuat program yang disusun hanya bersifat sementara bahkan hanya sekedar menghabiskan anggaran upgrading SDM tanpa melakukan analisis rencana yang strategis dan berkepanjangan.

5. Motivasi internal kurang

Faktor ini terjadi saat sebab nomor 4 dan 1 dominan ada di para peserta. Hal ini menyebabkan para peserta pelatihan kehilangan motivasi atau dorongan internal untuk meng-upgrade diri. Terlebih lagi jika para peserta telah berada di zona nyaman dan saat sesi pelatihan tidak memperluas zona tersebut. Sehingga, bisa dipastikan selama sesi pelatihan selain transfer pengetahuan yang begitu lama diperparah dengan keengganan untuk mempraktekkan apa yang telah diperoleh selama pelatihan pasca terlaksananya kegiatan tersebut.

Ada faktor-faktor lain yang bisa diulas selain lima faktor di atas. Namun, dari kelima faktor tersebut seharusnya sudah bisa membantu kita dalam menentukan arah kebijakan serta langkah preventifnya. Minimal menyiapkan perencanaan yang matang sebelum membuat program upgrading serta melakukan pengawalan terhadap progress praktik para peserta pasca pelatihan atau training.

Nah, demikianlah ulasan singkat mengenai pertanyaan “Mengapa Pelatihan Tidak Berdampak?“. Semoga bermanfaat dan kami tunggu respon balik positif di panel komentar di bawah ini. Bagaimana menurut Anda?

Berbagi inspirasi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.