kelas indonesia

Pertama kali masuk ke dalam kelas yang dipenuhi dengan suara-suara teriakan anak-anak yang ada di dalamnya adalah perasaan spesial tersendiri. Terutama bagi guru yang masih baru dan minim jam terbang, ini adalah perkara yang akan membuat keringat bercucuran dan tenggorokan yang serak.

Anak-anak, seperti biasanya mempunyai tenaga berlebih dalam hal urusan bercakap-cakap, berteriak dan bergerak aktif. Tubuhnya memang didesain sedang bertumbuh dan berkembang dengan segala konsekuensinya.

Nah, bagaimana jika saat pembelajaran mulai ramai dan sulit dikendalikan sedari awal pembelajaran? Apa yang harus dilakukan oleh guru yang ada dikelas untuk membuat suasana kelas menjadi kondusif?

Dalam beberapa kelas dan pelajaran, kelas memang didesain untuk “ramai” dan “aktif“. Guru memang memfasilitasi keramaian dan keaktifan tersebut. Tapi, bagaimana jika ramai dan aktif mereka tidak didesain dan diluar ekspektasi si Guru?

Dalam teori manajemen kelas, untuk membuat kelas yang kondusif dan siap diisi oleh para pembelajar dibutuhkan 3 elemen penting yaitu:

1. Peraturan
2. Prosedur
3. Konsekuensi Logis

1. Peraturan

Peraturan membuat kelas menjadi teratur dan dapat diatur. Termasuk kapan aktif dan ramai, kapan harus tenang dan mendengarkan gurunya, kapan harus bergerak dan kapan harus berbisik-bisik. Peraturan ini dibuat dan disepakati oleh guru dan siswa di kelas. Ada beberapa kaidah yang harus kita perhatikan dalam membuat peraturan:

a. Menyatakan Aturan dengan Positif

Aturan dibuat untuk mengatur siswa menjadi baik (positif), sehingga aturan yang dibuat sebaiknya bermuatan positif bukan sebaliknya seperti yang biasa kita lihat di kelas selama ini. Contoh: Dilarang Ramai diganti dengan  Menjaga Ketenangan, Dilarang Mengganggu Teman diganti Menyayangi Teman, Dilarang Buang Sampah Sembarangan diganti dengan Menjaga Kebersihan dan Ketertiban, dll

b. Ringkas

Manusia terutama anak-anak lebih mudah mengingat hal-hal yang sederhana dan ringkas. Semakin ringkas peraturan dibuat semakin mudah untuk diingat. Bandingkan jika peraturan dibuat panjang dan terlalu deskriptif dan normatif.

c. Bisa Dilaksanakan

Terkadang ada yang menuliskan peraturan yang tidak bisa dilaksanakan. Contoh: Siswa yang terlambat harus meminta izin Kepala Sekolah sebelum masuk kelas. Jika Kepala Sekolah selalu ada di sekolah maka tidak masalah, tetapi bagaimana jika kepala sekolah tidak selalu ada di pagi hari dan mengurusi anak-anak yang terlambat? Jika memang ada peraturan yang tidak bisa dilaksanakan maka cukup dihapus peraturan tersebut.

d. Sedikit

Seperti halnya poin ringkas, jumlah peraturan yang terlalu banyak justru malah tidak ada yang akan mengingatnya. Cukup 5 peraturan yang ada di kelas kita. Kita bisa merangkum aturan-aturan yang detil menjadi lebih umum agar tidak terlalu banyak.

e. Melibatkan Anak-anak

Saat membuat peraturan, kita perlu melibatkan anak-anak karena jika kita tidak melibatkan mereka maka peraturan yang ada seolah-olah hanya berlaku untuk Gurunya saja. Sedangkan mereka tidak merasa memiliki keharusan karena tidak terlibat dalam proses pembuatan peraturan tersebut.

f. Ada Konsekuensi

Setiap peraturan dibuat agar suatu kondisi agar menjadi kondisi ideal. Setiap pelanggaran terhadap setiap item dari peraturan atau prosedur yang telah dibuat harus dibuatkan konsekuensi. Konsekuensi adalah akibat yang muncul karena adanya peraturan yang dilanggar. Konsekuensi berkebalikan dengan reward atau penghargaan. Jika peraturan dilaksanakan dengan baik bahkan melebihi ekspektasi, maka penghargaan dan reward layak diberikan. Sebaliknya, jika peraturan dilanggar maka akan ada konsekuensi logisnya. Kami mengenalnya konsekuensi, bukan hukuman atau punishment.

2. Prosedur

Prosedur adalah langkah-langkah dalam pelaksanaan peraturan. Prosedur ini dibuat untuk memudahkan dalam pelaksanaan suatu proses. Pembuatan prosedur bersifat konsekutif atau berurutan.

Contoh: Prosedur Bertanya. 1) Siswa mengangkat tangan, 2) Guru mempersilahkan siswa yang mengangkat tangan terlebih dahulu, 3) Siswa kemudian mengutarakan pertanyaannya, 4) Guru menjawab pertanyaan tersebut, 5) Guru memastikan jawaban tersebut telah menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Ada banyak sekali prosedur yang perlu disepakati oleh Guru dan Siswa di kelas agar kelas menjadi kondusif dan teratur. Prosedur Diskusi, Prosedur Ijin Keluar Kelas, Prosedur Masuk Kelas, Prosedur Meninggalkan Kelas, Prosedur Presentasi, dan lain-lain.

3. Konsekuensi Logis.

Konsekuensi logis adalah keniscayaan manakala peraturan atau prosedur dilanggar. Beberapa orang menyebutnya mungkin dengan istilan hukuman atau punishment. Tetapi, menurut kami yang lebih tepat jika peraturan dilanggar, maka yang muncul adalah konsekuensi logis bukan hukuman. Mengapa harus konsekuensi logis? Nanti pada kesempatan lain akan dibahas lebih detil.

Nah, itulah 3 elemen penting yang perlu seorang guru atau walikelas persiapkan di dalam kelas agar kelas menjadi kondusif dan teratur. Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.