• Home
  • artikel
  • Rencanakan Apa Yang Anda Lakukan. Pimpin Apa Yang Anda Rencanakan.

Rencanakan Apa Yang Anda Lakukan. Pimpin Apa Yang Anda Rencanakan.

 

Seperti yang kita pahami, manajemen bukanlah tujuan. Manajemen adalah sarana, untuk merealisasikan tujuan-tujuan. Dengan adanya manajemen dan sistem manajemen, kita dapat memastikan bahwa kita dapat mewujudkan tujuan dengan serangkaian upaya strategis dan logis. Dengan adanya kepastian, manusia merasa adanya kejelasan dan keterarahan. Kedua hal itu penting, sebagai acuan dalam memenuhi tujuan. Karena itu pastikan dalam memilih sarana-sarana, sebaiknya terjadi rasionalisasi yang memungkinkan terjadinya tujuan. Tentu dalam prosesnya, kita juga perlu menyelaraskan dengan lingkungan dan realitas yang ada.

Salah satu bagian penting dari proses manajemen, adalah perencanaan dan keandalan eksekusi. Saat merencanakan, manusia menggunakan dua potensi unik: imajinasi dan suara hati. Yang menarik, saat merencanakan kita tidak hanya mengandalkan ingatan tentang keberhasilan masa lalu. Tapi justru membuka diri akan kemungkinan-kemungkinan baru. Manusia mampu menciptakan harapan dan tujuan yang lebih baik. Kita bisa berkata, “Saya telah menciptakan masa depan dalam pikiran saya. Saya dapat melihatnya dan saya dapat membayangkannya seperti apa, kelak!” Binatang tidak dapat melakukannya. Mereka secara naluri dapat mengumpulkan makanan, untuk persediaan. Tetapi, mereka tidak mampu menciptakan mesin penghangat makanan atau mesin pendingin sayuran. Hanya manusia yang dapat memperhatikan “Mengapa saya perlu lakukan ini semua?” Hanya manusia yang punya kemampuan untuk membayangkan tindakan-tindakan baru dan menekuninya sepenuh hati.

Dengan imajinasi dan suara hati inilah, manusia dapat merencanakan, melihat masa depan dari masa kini. Dengan melihat benih yang ada saat ini, jiwa dan pikiran yang terlatih segera melayang ke masa depan; melihat benih itu menjadi perkebunan yang berisi tanaman subur, segar, rindang, dan berbuah lebat.

WS Rendra menggambarkan dengan baik, dalam “Sajak Seonggok Jagung”.

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda…

Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang;

Ia melihat petani; ia melihat panen.

…Ia siap menggarap jagung.

Ia melihat kemungkinan, otak dan tangan siap bekerja

Lebih jauh, sebagai muslim, kita yakini bahwa perencanaan adalah bagian dari keimanan. Betapa tidak, bahkan seorang Nabi Yusuf pun mencontohkannya.

“Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya keciali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf/12:  47-49)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Yusuf as. merencanakan program untuk beberapa tahun ke depan. Itu artinya, perencanaan tidak menafikan keimanan, tapi merupakan upaya antisipasi, dalam menjalankan sebab-sebab bagi terpenuhinya tujuan. Perencanaan pada dasarnya adalah tindakan legal. Perencanaan akan memberikan gambaran yang utuh dan menyeluruh bagi masa depan, sehingga mendorong seseorang untuk bekerja  secara maksimal dan optimal dalam merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan.

Kita dapat menggunakan strategi kreatif dari Walt Disney, dalam “menciptakan” masa depan. Robert Dilt menuliskan teknik ini, berdasarkan penelitiannya yang menunjukkan konsistensi Disney dalam mengembangkan kreasi.

Teknik kreatif ini didasarkan pada pengalaman bahwa pikiran “kreatif” kita sering dihalangi oleh pikiran “kritis” kita. Di samping keduanya, ada pula pikiran “realis”. Ketiganya, ada di kepala kita. Karena itu ketiga pikiran itu perlu disadari keberadaannya. Dan kemudian kita manfaatkan. Teknik kreatif yang disarankan adalah kita mengambil posisi sebagai juri atau penonton dari ketiganya, sebagai berikut:

1. Beri kesempatan kepada si Kreatif, sisi imajinatif pikiran kita. Ijinkan ia mengembangkan kreasinya, membayangkan hasil akhir dari cita-cita atau tujuannya. Bagaimana bentuk jadi dari “pohon besar”, sebagai hasil dari benih dan kerja keras menumbuhkannya? Bagaimana keberhasilan itu memberikan kesyukuran bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Berikan kesempatan untuk berimajinasi secara bebas.

2. Kesempatan kedua berikan kepada si Realis, sisi realistis dan rasional dari pikiran kita. Ijinkan ia untuk membuat “imajinasi pohon besar” si Kreatif tadi menjadi lebih konkrit: ukuran-ukurannya, lokasinya, bentuknya, siapa saja yang terlibat. Lalu, berikan kesempatan si Realis untuk memikirkan, langkah-langkah apa saja menuju ke sana, rencana tindakan apa saja yang diperlukan, siapa saja yang perlu terlibat, dan sumber daya apa saja yang diperlukan.

3. Giliran ketiga, berika pada si Kritikus, sisi kritis dari pikiran kita. Ijinkan ia menguji dan mengoreksi Visi dan Rencana Tindakan yang disusun oleh si Kreatif dan si Realis. Manfaatnya adalah untuk mempertajam langkah, mengecek kesesuaian apakah Rencana Tindakan dan sumber daya pendukungnya sudah benar, lengkap, dan rinci. Si Kritikus juga akan melihat adanya risiko perubahan tertentu, sehingga memungkinkan terjadinya antisipasi (Rencana B, rencana alternatif).

Sebagai seorang pemimpin, tiga langkah kreatif di atas dapat terus kita latih untuk meningkatkan kemampuan kita berkreasi, membangun masa depan dari masa kini.

“Setiap orang bisa menghitung jumlah biji dalam satu apel, tapi hanya Tuhan yang bisa menghitung jumlah apel dalam satu bijinya.” (Robert H. Schuller dalam “Possibility Living”)

Leave a Comment

© 2015 KPI Indonesia
Konsultan Pendidikan Indonesia