bullying

Hari ini kita digegerkan dengan berita yang cukup mencengangkan. Kasus perundungan yang terjadi pada siswi SMP di Pontianak begitu viral di jagat maya. Kasus bullying yang menggegerkan masyarakat bahkan banyak para influencer di luar negeri turut menyampaikan keprihatinannya, kemudian akhirnya mendapat respon dari Presiden untuk mengusut tuntas kasus ini.

Pelaku dan korban dinilai masih di bawah umur, meskipun terduga pelaku termasuk siswa di jenjang SMA sedang korban merupakan siswa SMP. Kejadian tersebut ditengarai dimulai dari percekcokan di media sosial. Anda bisa membaca berita daring untuk mengetahui detail kejadian tersebut.

Perlu kita jadikan pelajaran bersama baik itu dari sisi sebab dan tentunya menjadi perhatian bagi orangtua dan para pendidik di sekolah. Seolah-olah, peran orangtua dan guru di sekolah belum berhasil membentengi mereka (korban dan pelaku) yang masih berstatus pelajar.

Kasus bullying memang seolah menjadi kasus rutin di dunia pendidikan. Negara kita khususnya, kasus bullying marak terjadi di hampir semua jenjang pendidikan. Tingkat universitas, sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, dan sekolah dasar.

Sebenarnya apa penyebab bullying (perundungan)?

Dikutip dari laman Kemendikbud, Menurut Suzie Sugijokanto, konsultan dan pelatih pendidikan di Surabaya, dalam bukunya Cegah Kekerasan pada Anak (tahun 2014), pelaku perundungan merupakan anak yang mempunyai masalah dalam kepercayaan diri, sehingga selalu mencari teman atau orang lain yang tak berdaya untuk menjadi bahan pelampiasannya.

Pelaku perundungan umumnya mempunyai latar belakang psikologis: mudah putus asa; emosi tak terkendali; dominan atau ingin menguasai orang lain; dan selalu menonjolkan kekerasan dalam berbagai situasi dengan berbagai cara.

Menurut Suzie, penyebab perundungan sebagian besar antara lain:

  1. Pelaku perundungan merupakan korban penghinaan, kekerasan, dan ketidakadilan dari orang tua atau saudara serumah;
  2. Sering menonton adegan kekerasan di televisi dan jauh dari pengawasan orang tuanya;
  3. Tak berdaya dipaksa teman-temannya untuk melakukan kekerasan pada orang lain;
  4. Pernah menjadi korban perundungan sebelumnya di sekolah dan di masyarakat dan tidak terlihat ada upaya untuk menghentikannya. Akibatnya, si anak berpikir bahwa tindakan perundungan dibenarkan.
Baca Juga  Pemimpin Menara, Saatnya Turun Gunung

Jika kita lihat di penyebab nomor 1 dan 2, kejadian ini kemungkinan besar terjadi di rumah. Dimana orangtua menjadi sorotan, baik itu pola asuh maupun budaya yang dibangun dikeluarga tersebut. Perlu kita introspeksi dari masing-masing diri kita, apakah di keluarga sering terjadi poin nomor 1? Kita mengajarkan bagaimana menghina, melakukan tindakan kekerasan, dan bersikap tidak adil kepada anak-anak kita baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.

Terkadang sikap orang tua yang tidak sengaja menunjukkan ketiganya terjadi. Merendahkan kemampuan anak, memberi hukuman dengan memukul, bertengkar dengan pasangan di depan anak, bahkan karena kita merasa orangtua yang ‘benar sendiri’ seringkali tidak adil kepada mereka.

Pada poin ke tiga, disebabkan tontonan. Di era smartphone yang sedemikian bebasnya. Anak-anak kita sangat berpeluang besar menonton adegan-adegan kasar dan keras yang sebenarnya tidak diperbolehkan mereka melihatnya.

Sebagai orangtua, tugas mengontrol apa yang dilihat anak-anak menjadi tanggung jawab besar kita, meskipun hampir mustahil bisa menahan derasnya informasi tersebut.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah membuat pondasi pengertian yang kuat kepada anak kita, sehingga mereka meskipun disuguhkan tontonan beradegan keras, mampu memilih dan memilahnya sehingga tidak menjadi ‘ajaran’ kekerasan bagi ia kelak.

Pendidikan keluarga berhasil bisa dilihat dari cara anak tersebut menyikapi informasi negatif yang tersebar bebas di dunia maya dan mampu diakses mereka. Saat kita gagal dalam membangun pondasi prinsip mereka, maka potensi bullying yang disebabkan menonton adegan kekerasan dan negatif lainnya akan sulit dibendung.

Sinergi orangtua dan para guru di sekolah menjadi mutlak diperlukan untuk membangun pondasi prinsip agar anak kita menjadi generasi yang mengerti serta memilah baik dan buruknya informasi dan tontonan di era informasi yang deras ini.

Baca Juga  Tips Belajar Cepat Khusus Untuk Ujian Akhir Semester

Sudahkah orangtua menjadi partner sekolah dlm hal pendidikan terpadu? Sudahkah orangtua mendapatkan edukasi berkala dan sistematis dari sekolah? dan seberapa peduli orangtuautk menjadi parner sekolah yg saling menguatkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.